sebenernya ne aku gak mau ngomongin politik di sini, tapi berhubung aku kelewat sebel sama yang temenku yang sok tau masalah politik, aku bahas deh politik dari kacamataku.
secara bodoh wes ya, buat aku politik itu sesuatu yang membuat orang lain terluka. gimana gak? perebutan ini itu, jatuhin sana sini. masih sempet bilang "aku ikhlas kalau kalah, gak apa kok" tapi ujung-ujungnya jadi gila.
politik buat aku bukan cuma sebatas di pemerintahan, tapi mencakup semua aspek, mulai dari politik terhadap diri sendiri, politik kelas, politik cinta, dan semua hal remeh temeh di kehidupan kita juga gak jauh dari politik.
pertama, ngomongin politik di pemerintahan. aku kadang berpikir kalau orang-orang politik perlu belajar etika. melihat yang terjadi sekarang ini, di DPR jotosan gitu, saling tuding, saling fitnah olok-olok. emang sih ada yang bilang kalau politik itu seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan,yah pantes kalo orang jadi mentingin ego cuma biar dapet kekuasaan.
ada temanku yang kuliah sospol di fisip. etika politiknya dapet A, tapi buat aku etika sosialnya dapet E-. ngomongnya gak punya aturan, seenaknya sendiri, tapi kalo dia udah ketemu sains langsung aja misuh-misuh (ngomong kotor dalam bahasa jawa). trus apa gunanya dia kuliah etika depet A kalo gak beretika. mungkin ini gambaran penerus bangsa kita di dunia politik. kalau gitu, kapan majunya bangsa kita?
kedua, ngomongin politik di dunia pendidikan. Aku hidup di keluarga pendidik dan tahu bagaimana sebenarnya dunia pendidikan. aku bukan orang kota, aku orang desa. di saat semua bilang sistem pendidikan kita telah bagus, aku jawab "ya, untuk beberapa wilayah, tapi aku miris dengan wilayah lain" kenapa?
aku tejun langsung di sekolah ayahku (sekolah negeri loh ya) selama libur kuliahku. aku lihat anak-anak begitu bersemangat sekolah meskipun harus menahan lapar karena tak sarapan. begitu semangat meski ancaman pernikahan dini karena budaya di depan mata. begitu bersemangat meski baju mereka belang blonteng, kekecilan, karena tak ada biaya. aku maklum, kami di desa terpencil, di pucuk gunung tandus yang air saja sulit. meski biaya pendidikan digratiskan, tapi kebutuhan ekonomi yang lain masih saja kurang.tapi aku bahagia di tengah semangat mereka belajar, saat mereka begitu antusias membaca buku yang aku bawa.
tapi ada satu hal yang buat aku mengernyitkan dahi. saat itu sekolah mendapatkan uji akreditasi. ketika selesai, bendahara mengeluarkan amplop dan diberikakn ke petugas, apalagi isinya kalau bukan uang? saat aku tanya, hal itu sudah biasa. sama ketika ada pengawas datang, dan bila tak beruang, tunggu saja sekolah itu dilaporkan tidak layak atau dipersulit. inikah politik pendidikan?
semua itu balik lagi ke uang. orang pengen jabatan karena uang. pendidikan bisa maju karena uang. bahkan ketika dosenku aku bandrol dengan pertanyaan ini, beliau bilang "ini memang sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan, ketika kita tidak mengikuti kita akan tertindas, tapi alangkah baiknya jika kita tidak terlalu beorientasi pada uang seperti itu"
hmmm.... ayahku sampai senyum-senyum liat aku nyerocos masalah pendidikan.
mau politik apa lagi, mau orientasi uang apalagi
dunia ini emang udah kacau.
aku jadi sebel...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar