well, apa kabar...
rasanya sudah lama tiko gak peduli sama blog ini (baca: lupa kalau punya blog.
langsung ajah ya...
ceritanya ini tentang kejadian pas hari ibu tanggal 22 Desember lalu.
di kosanku ada seekor kucing betina belang tiga. namanya kucing betina, pastinya sering hamil dong (meski gak jelas sapa yang ngehamilin, hehe). tapi, kasihannnya tuh kucing gak pernah bisa manyelamatkan anaknya buat hidup sampai gedhe. anak-anaknya yang terakhir, mati pas umur 2 hari. bahasa jawanya mati pathing gletak
tapi, namanya kucing, mati satu tumbuh seribu. anak mati, ya hamil lagi.
nah, kali ini sang ibu kucing hamil lagi. kami semua anak-anak kos harap-harap cemas. dan pada saatnya lahirlah 4 ekor kucing kecing belang 3 yang lucu. sang ibu kucing mulai bingung mindahin tuh anak-anak kucing ke tempat yang lebih hangat. kerjaannya tiap hari, gendongin anak kucing keliling kosan. dan akhirnya nemu timba kecil di luar kamar. ibu kucing meletakkan anaknya diu dalam timba, dan sang ibu menunggu di luar timba. namun apa dikata, selang 2 hari, dia diusir keluar dari timba oleh pemilik timba.
karena ingin anak-nya tetap hidup, ibu kucing memindahkan ke tempat lain di depan kamarku yang lebih hangat. dan selang beberapa hari, diusir lagi oleh mbak kosku.
frustasi, ibu kucing pindah ke wastafel tempat cuci piring. dan saat ibu kucing sedang mencari makan untuk anak-anaknya, kucing kecil dibuang oleh ibu kos entah kemana...
tahu apa yang terjadi selanjutnya?
ibu kucing terus mengeong mencari anaknya, seperti panik, naik turun tangga, muterin kosan, merintih seperti manusia yang sedang menangis.
pasrah anaknya gak ketemu, ibu kucing duduk diam di tempat asal anak-anak kucing sambil terus mengeong-ngeong siang malam memanggil anaknya.
mbak kosku mengutuk, aku marah, teman-teman yang lain bingung mencari anak kucing yang hilang.
renungan untuk hari ini:
ibu kucing yang jauh dari anaknya saja menangis dan meratap sebegitu hebatnya, bagaimana dengan ibu kita bila terpisah jauh dari kita?
sudahkah kita berbakti kepada ibu kita?